Aku adalah seberapa jauh pencarian dalam masa yang tidak pernah aku mengerti, sudah terlalu lama berada pada agenda-agenda yang tak terpecahkan dalam berjalan atau setidaknya berharap.

Sampai suatu ketika aku menemukanmu di sudut ruang saat kau yang terlebih dahulu menyapaku. Dengan tidak berprasangka akan menjadi apa-apa, kita bertukar sapa. Sejak saat itu, aku merasa ada yang kau beri sekaligus kau bawa dalam tubuhku. Seperti rasa candu karena adanya keberadaanmu.

Bersamamu aku melihat yang gelap menjadi terang, mendengar yang bising menjadi tenang.

Sayang, kau tlah hinggap di dalam ketidakpastian, dalam perjuangan yang harus ku lakukan berulang-ulang, entah untuk mengalahkan siapa, mungkin diriku sendiri atau mungkin keadaan.

Maaf, aku salah, bukan hanya aku, tapi kau juga tak pernah patah arang tentangku.

Kita seringkali berjuang untuk tetap bisa bersama. Padahal entah apa tujuannya, kita hanya ingin bersama saja. Tapi hendaknya aku bersyukur untuk segala yang aku dan kau lewati. Mungkin itu setidaknya membuktikan bahwa kita benar-benar tahu kalau kita rela untuk mematahkan segala perasaan bahagia demi bisa bersama.

Walaupun aku tak yakin kau butuh pembuktian, mungkin aku sebenarnya juga tak pernah butuh bukti apa-apa.

Kini kita hanya butuh lebih banyak waktu untuk terus bisa menjadi satu. Dalam dua yang sejatinya manunggal, aku menjadi separuh yang kau bawa kemana-mana dan kau menjadi sebagian aku yang tak akan lepas kau jaga.

Untuk senyum yang tak pernah gagal membuatku tergila-gila,

Untuk mata yang membuatku tak berdaya,

Untuk sentuh yang menjadikan semua terasa nyata,

Untuk peluk yang selamanya ingin aku rasa,

Untuk kamu yang dengan kata cinta aku sering menyebutnya,

Walau tak ada satupun yang tahu ini semua akan kemana,

Namun tetap dan teruslah menjadi kita.

Begitu, apa adanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *