Tag Archives: Poem

Sayang, jika waktu terpaksa berhenti agar kita saling menunggu, maka aku akan membiarkan tubuhku duduk dulu Walau tidak ada yang menjamin dalam hal ini siapa yang akan kembali lebih dulu Sayang, jika kamu terpaksa sejenak pergi agar aku mencari, maka aku akan berlari Walau tidak ada yang menjamin bahwa aku akan menemukanmu Sayang, jika kita […]

Aku adalah seberapa jauh pencarian dalam masa yang tidak pernah aku mengerti, sudah terlalu lama berada pada agenda-agenda yang tak terpecahkan dalam berjalan atau setidaknya berharap. Sampai suatu ketika aku menemukanmu di sudut ruang saat kau yang terlebih dahulu menyapaku. Dengan tidak berprasangka akan menjadi apa-apa, kita bertukar sapa.¬†Sejak saat itu, aku merasa ada yang […]

Sehabis ini aku ingin kita duduk berdua dengan tidak melakukan apa-apa. Diam dulu saja, hingga sama-sama reda. Kalau kau mau, aku akan membuatkanmu dua cangkir teh manis hangat kesukaanmu. Duduklah dulu. Jika waktu memang enggan untuk memperlambat geraknya, biarlah aku yang akan menunggu kita agar mampu menyelesaikan sesuatu yang tertunda beberapa saat lalu. Jelaskan apa […]

Di lorong stasiun aku berjalan terkulai tak berdaya, menahan segala amarah yang sudah lama aku bawa kemana-mana. Kini berganti aku yang meninggalkannya dan seperti ada rasa bangga sekaligus sesal yang bergemuruh dalam dada. Sebelum aku naik kereta api ke Yogyakarta, ia berlari dengan bertemankan keringat yang mengucur di ujung dahinya. Ia yang menghampiriku tanpa berkata […]

Ya Rahman, miliaran cahaya bertebaran dalam kilau-Mu Dengan kehendak-Mu kami menikmati salah satunya Cahaya dari wajah ayah kami Saat ia, dengan caranya, mengajarkan kami untuk beriman kepada-Mu   Ya Qudus, miliaran cahaya kau gantungkan di dinding langit-Mu Dengan kehendak-Mu kami menikmati salah satunya Cahaya dari senyum ayah kami Saat ia, dengan caranya, selalu mengajarkan kami […]