Sehabis ini aku ingin kita duduk berdua dengan tidak melakukan apa-apa. Diam dulu saja, hingga sama-sama reda. Kalau kau mau, aku akan membuatkanmu dua cangkir teh manis hangat kesukaanmu. Duduklah dulu. Jika waktu memang enggan untuk memperlambat geraknya, biarlah aku yang akan menunggu kita agar mampu menyelesaikan sesuatu yang tertunda beberapa saat lalu.

Jelaskan apa yang kau mau, jelaskan apa yang kau inginkan dariku.

Kita tak perlu punya pandangan yang sama tentang apa yang mengganggu pikiranmu, kita hanya perlu mendengarkan satu sama lain. Kau boleh lebih dulu bicara, aku tak akan bicara bahkan sepatah katapun agar kau dapat benar-benar menyampaikan semua yang kau rasakan. Aku akan baik-baik dalam mendengarkan.

Setelah selesai kau menjelaskan, aku akan memelukmu dengan segala kerelaanku untuk berserah tepat di atas dadamu. Entah aku atau kau yang keliru, aku akan membiarkan aku yang lebih dulu merendahkan suara dan kepalaku untuk meredakan segala panas yang mengelilingi kita sedari tadi. Amarah-amarah yang menundukan logika kita, yang sejenak membuat kita lupa bahwa emosi ini tak pernah seberapa nilainya dibandingkan dengan getar kasih yang selama ini kita bangun bersama.

Sayang, jika kau masih tak mau memaafkan keadaan, jika kau masih tak mau merendahkan amarahmu, jika kau masih tak mau menghargaiku…

Mungkin setidaknya,

Bisakah kau menghargai waktu?

Karena kita tidak pernah tahu seberapa lama Tuhan menyisakan detik untukku, untukmu, untuk rasa yang kita anggap satu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *