Satu.
Dua..
Tiga…

Sudah tiga tahun, bukan waktu yang sebentar untuk sekadar mengenal, setidaknya bertukar cerita, dan menitipkan rasa satu sama lain. Sudah tiga tahun juga aku diberikan predikat sepihak oleh orang di luar aku sebagai seorang “Peragu”. Mungkin karena seharusnya sebagai seorang manusia biasa, aku begitu merasa berharga dan mudah tersanjung ketika ada yang memberikan banyak sekali kebaikan untuk memenuhi jiwaku yang kosong.

Entah apa yang salah, entah siapa yang salah. Namun pastilah jiwa mana yang sanggup berniat ingin menyakiti jiwa lainnya? Ketika satu orang benar-benar mencintai dan yang dicintai tak bisa berbalik mencintai, kerap kali yang mencintai dianggap menjadi korban dan pihak yang tak mampu membalas cinta menjadi tersangka yang harus siap diberikan hukuman.

Padahal urusan hati, bukankah ada kuasa di luar diri yang berkekuatan untuk menggetarkan?

Aku benar-benar ingin menyelesaikan ceritanya sebagai korban dan aku sebagai pelaku kejahatan. Sungguh tak ada sama sekali yang pantas tersakiti karena cinta adalah refleksi kasih Sang Penyayang.

“Tanpa bermaksud menyakiti, tapi kau tahu aku tidak bisa. Lantas mengapa kau tetap begini? Carilah ia yang benar-benar pantas denganmu, seseorang yang jujur menginginkanmu.”, jelasku meyakinkan.

Ia menyandarkan punggungnya ke bantalan bangku yang jelas-jelas dalam situasi ini tidak akan pernah nyaman untuk bersandar.

“Karena aku tahu, cinta butuh waktu dan karena itulah aku menunggu.”

Ku tatap wajahnya. Ia tersenyum kelelahan. Lelah sekali. Sepertinya ia melukis harapan setiap hari dengan cat tak berwarna. Tak tahu sambil berdoa atau pasrah saja. Cinta harusnya tak sesakit ini untuk orang sebaik dirinya.

“Cinta tidak butuh waktu. Ia tumbuh dan mulia karena keutuhannya sendiri. Kau tahu, aku yang selama ini selalu butuh waktu. Aku yang butuh waktu untuk tidak lagi ragu denganmu. Namun sekeras-kerasnya aku berusaha menerima, sekeras itulah aku menolak kita bersama. Kau tahu, kau selama ini dan jika tetap seperti ini, kau akan terus membuang-buang waktu. Mengertilah, kita tidak akan bersatu.”

Ia menutup matanya dan dengan gelisah ia membuka mulutnya pelan-pelan.

“Cinta butuh waktu, kau juga butuh waktu. Kalau begitu, semoga kau mengerti, kau harus tahu bahwa aku pun selama ini butuh waktu. Aku butuh waktu untuk menyadari bahwa aku tidak benar-benar mencintaimu dan menyerah dimakan oleh ragu yang melenyapkan kekuatanku untuk menunggumu. Kau harus tahu bahwa aku juga butuh waktu.”

Ia membuka matanya, menoleh ke arahku, tersenyum seolah-olah aku baru saja menerimanya.

Sungguh dengan kasih aku mendekat ke arahnya dan berbisik,

“Dan kau pun harus tahu, bahwa sebenarnya waktu juga membutuhkanmu untuk tidak lagi menunggu.”

Aku meneteskan air mata dan tersenyum, seolah-olah aku baru saja benar-benar memberikan cinta yang selama ini ia minta.

“…..karena mungkin cara terbaik dari menerjemahkan ragu adalah dengan menghargai waktu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *