Assalamualaikum teman-teman pembaca blog semuanya! Gue lagi flu nih (dateng-dateng langsung curhat, maafin ya hahaha). Tapi asli deh, lo pernah ga sih flu yang berat banget gitu? Yang sampe napas aja penuh usaha jiwa dan raga? Naaahhh gue lagi kaya gitu nih sekarang. Berhari-hari flu berat dan karena gue lagu menyusui Aina yang umurnya belum tiga bulan, jadi gue juga harus hati-hati buat ga minum obat sembarangan. Karena takut ngaruh ke ASI, makanya yang gue lakukan cuma minum vitamin biasa dan paracetamol dengan dosis rendah.

Hal yang paling menyiksa sebenarnya adalah waktu hidung lagi mampet. Itu adalah bagian yang ga enak banget karena gue bingung, butuh oksigen tapi susah banget dapetnya. Ini mengingatkan gue betapa selama ini gue kurang bersyukur, bahkan untuk napas aja sebenarnya itu adalah kenikmatan kecil yang sering gue lupain. Padahal oksigennya ada, tapi guenya yang ga sanggup buat ngedapetin dengan cara normal karena hidung mampet.

Iya, hidung mampet adalah peristiwa di mana salah satu lubang hidung atau keduanya rasanya kaya mampet… apa sih definisi gue hahaha ya pokoknya gitu, ga plong gitu rasanya, kaya ada yang ngalangin, ketutup, ga berfungsi sebagaimana mestinya, useless…

Sampailah akhirnya gue beli inhaler buat ngebantu gue melegakan hidung tersumbat karena pilek (ini seriusan tagline si inhaler, tapi sumpah blog ini bukan iklan). Awal-awal pake inhaler hidung gue tetep aja mampet, lama-lama baru deh agak enakan. Tapi masalah baru muncul lagi, kalau lubang hidung gue yang sebelah kanan mampet terus gue pakein inhaler ke lubang hidung sebelah kanan, lubang hidung sebelah kanan lega tapi ga lama kemudian lubang hidung gue yang sebelah kiri malah mampet dan begitu seterusnya, gantian aja terus -_-

Ini mengganggu waktu tidur gue, setiap gue tidur tiba-tiba gue sering ngerasa mampet, gue bakal kebangun dan ngerasa pusing yang ga enak banget. Sampai di suatu malam gue kebangun karena hidung mampet.

Setelah peristiwa kebangun tiba-tiba karena hidung mampet, lalu berjam-jam gue mencoba menormalkan fungsi hidung gue tapi biasanya ga ngaruh, lubang hidung gue secara bergantian ga berfungsi dengan baik. Kalau yang kiri kebuka, yang kanan ketutup. Kalau yang kanan kebuka, yang kirinya yang ketutup. Gue ga tau kenapa hidung gue jadi punya sistem buka tutup gini kaya jalanan puncak, tapi yang jelas malam itu gue tersiksa.

Sampai akhirnya gue ke dapur yang kebetulan berada satu lantai di bawah kamar gue buat ngambil air putih hangat dan pas gue palik lagi dengan perasaan masih kesal karena hidung mampet, gue melihat pemandangan yang tiba-tiba menenangkan. Gue melihat Rifan dan Aina tertidur pulas, gue masuk pelan-pelan menghindari timbulnya bunyi karena takut ngebangunin keduanya. Gue duduk di kasur dan ngeliatin dua-duanya yang lagi tidur. Awalnya gue lihat wajah Aina yang kayanya tambah lama tambah mirip gue, setelah itu gue lihat wajah Rifan yang tidurnya nyenyak banget. Tiba-tiba gue sadar, udah lumayan lama juga gue sekamar sama orang yang tadinya ga gue kenal sama sekali ini. Sebentar lagi gue sama Rifan genap menjalani satu tahun pernihakan. Kalau kata orang mah… yailah baru bentar. Sambil mandangin Rifan yang lagi tidur nyenyak dan gue yang sibuk menggosok-gosok hidung yang pileknya ganggu banget, gue googling tentang flu dan gue menemukan fakta tentang lubang hidung.

Lo tau ga sih kalau ternyata lubang hidung itu masing-masing punya fungsi yang beda antara yang kiri dan kanan?

Hasil googlingan gue bilang bahwa lubang hidung kanan sering diibaratkan sebagai matahari yang memiliki karakter panas. Lubang hidung kanan berfungsi mengeluarkan udara panas dalam tubuh, sehingga dapat meningkatkan sekresi asam.

Sedangkan lubang hidung kiri diibaratkan sebagai bulan yang mengeluarkan udara dingin. Menghembuskan udara dari lubang hidung kiri dapat meningkatkan pengeluaran alkali (basa).

Baik lubang hidung kanan dan kiri berhubungan dengan sisi berlawanan dari belahan otak dan lobus penciuman. Hidung berada dalam kontak langsung dengan hipotalamus melalui jalur dengan lobus pencium di otak. Hipotalamus adalah bagian dari sistem limbik, yang terkait dengan emosi dan motivasi.

Lubang hidung melalui proses respirasi dihubungkan dengan respons neuromotor dan dengan sistem saraf otonom. Respons neuromotor ini mempengaruhi belahan otak (hemisphere) dan juga aktivitas kimia otak, yang pada akhirnya mempengaruhi semua fungsi tubuh.

Bernapas melalui lubang hidung kiri mempengaruhi aktivitas kortikal otak di sisi kanan, dan sebaliknya. Belahan otak kanan yang dipengaruhi oleh dominasi lubang hidung sebelah kiri, terkait dengan kemampuan emosional, visual, relaksasi dan kegiatan yang bersifat feminin.

Sedangkan belahan otak kiri, yang dirangsang oleh dominasi lubang hidung kanan, dihubungkan dengan kegiatan verbal, lebih energik dan rasional.

Dah itu tulisan dari googling ya, bukan gue yang tiba-tiba ide dan membuat teori hahaha

Intinya gue ngerti kenapa kalau satu lubang hidung ketutup mungkin gue masih bisa napas tapi butuh tenaga yang lebih, usaha yang lebih, dan emang tetap lebih enak kalau napas tanpa ngerasa hidung mampet. Karena emang semestinya gitu, sebaiknya dua-duanya sama-sama bekerja dan berfungsi dengan baik.

Mungkin sama dengan pernikahan. Ada yang bilang tahun-tahun pertama adalah masa indah-indahnya, beda sama tahun-tahun tua berikutnya. Tapi mungkin gue punya pemikiran lain. Pernikahan layaknya hidup pasti mengalami susah dan senang. Gue sama Rifan layaknya lubang hidung yang masing-masing bisa mampet, baik karena virus atau gangguan lainnya. Yang mungkin saat mampet itu kebahagiaan atau keindahan yang bisa kami dapatkan butuh tenaga yang lebih, usaha yang lebih, dan semua bakal lebih gampang kalau kami berdua atau salah satu di antara kami berdua ga mampet. Apalagi sekarang kami udah punya anggota baru, Aina (bukan lubang hidung) – anggaplah ia jantung yang butuh oksigen, Aina butuh kebahagiaan dan kenyamanan. Dan gue sadar kami berdua adalah saluran untuk Aina ngedapetin itu semua.

Layaknya virus flu atau pilek yang beredar terbang bebas di udara dan bisa menyerang siapa saja dengan usia berapa saja, juga kapan dan di mana saja, begitu juga dengan pernikahan gue sama Rifan. Gue yakin ga peduli satu tahun, dua tahun, lima tahun, seratus tahun masa pernikahan. Virus buat bikin kami berdua atau salah satu di antara kami mampet akan terus beredar di sekeliling kami. Sekarang gimana caranya daya tahan kami yang harus kuat, atau kalaupun emang virus itu udah keburu nempel, ya kami harus perang buat bunuh virusnya dan sehat kembali.

Gue sama Rifan ga kenalan lama sampai akhirnya memutuskan menikah, cuma sekitar satu bulan tiga minggu. Kami juga ga mengalami masa pacaran yang lama sampai akhirnya menikah, sekitar sebelas bulan tiga minggu. Awal-awal menikah gue kadang kaget karena Rifan beda dari ekspektasi gue. Mungkin Rifan juga merasakan hal yang sama. Dia shock karena gue suka pake daster compang-camping kaya gembel, dia stress gue orangnya susah diatur, dia pusing karena gue selalu punya dunia sendiri kalau lagi berhubungan sama art. Mungkin dia kaget dan bingung juga. Begitu juga dengan gue yang kadang kaget banget kaya rasanya belum kenal apa-apa sama Rifan. Dan terkadang itu membuat kami berdua mampet.

Tapi layaknya lubang hidung yang menempel di hidung (oke kalimat ini ga ada faedahnya hahaha) kami sudah memilih masing-masing diri kami buat menempel berdampingan pada lembaga pernihakan, pernah berjanji di hadapan Sang Penyayang. Kami sadar kami tidak menyatu (bayangin kalau lubang hidung lo nyatu, kaya goa gitu bentuknya di hidung lo kan serem wkwkwk), masing-masing kami punya fungsi yang beda antara satu sama lain. Dan mungkin sekarang langkah terbaik untuk terus menempel berdampingan, kami hanya perlu memastikan bahwa fungsi masing-masing dari kami dapat bekerja dengan baik. Karena kebahagiaan sebenarnya ada di sekitar kami, rasa syukur mengelilingi kami, tinggal bagaimana kami ga mampet dan bisa menghirup bahagia sebagaimana mestinya.

Sambil ngucek-ngucek hidung gue yang tengah malem itu gatelnya minta ampun dan masih ngeliatin Rifan tidur, gue tiba-tiba bersyukur, setidaknya sekarang cuma lubang hidung gue yang mampet, hubungan kami ga mampet, kami sebagai lubang hidung atau saluran bahagia untuk Aina mendapatkan kebahagiaan, sedang berfungsi sewajarnya, apa adanya. Virus-virus yang pernah nempel sudah pernah berhasil kami bunuh dan kedepannya kami juga harus siap dengan daya tahan tubuh yang lebih kuat lagi supaya ga ada virus yang berani nempel dan kami ga mampet di kemudian hari wkwkwk

Satu tahun ini emang belum seberapa. Tapi ijinkanlah bersama dengan tulisan ini, gue bersyukur atas apa yang Tuhan titipkan. Suami yang baik, soleh, pekerja keras, gemas, dan mendukung istrinya untuk menjadi dirinya sendiri. Juga untuk buah hati kami yang begitu menyejukan hati. Tuhan Maha Baik.

Dan juga tulisan ini (gue yakin Rifan baca, soalnya dia fans tulisan-tulisan gue, dia doang yang kayanya ngefans sama tulisan gw wkwkwk) sekaligus mewakili gue untuk mengucapkan, “Happy first wedding anniversary, husband. Semoga kita menjadi lubang hidung yang sehat dan ga mampet, selalu, selamanya wkwkwkwk I love you, ayahnya Aina.” 🙂

P.S. buat para pembaca yang sudah menempel dengan separuh lubang hidung lainnnya, semoga jarang-jarang mampet. Dan buat yang belum dipertemukan, sabar, coba hirup lagi, kamu yakin sanggup menarik oksigen sendiri? :3

Sampai ketemu di postingan berikutnya 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *