Setiap orang tidak ingin ditemukan atau menemukan. Sebenarnya setiap orang hanya ingin dipertemukan.

Akan lebih menyenangkan jika tidak sengaja, jika tiba-tiba, jika tidak diduga sebelumnya.

Pertemuan adalah hal yang begitu didambakan setiap orang. Termasuk pertemuan kami, aku dan ia yang ku panggil “Bumi”.

***

Tiba-tiba Bumi datang di tengah rasa yang berjangka akan kesendirian dan kesunyian. Ia hadir menempatkan dirinya sebagai sosok yang tak bisa ku biarkan berlalu begitu saja. Dengan sederhana ia menyapa,

“Hai, aku Bumi. Bolehkah kita berbincang-bincang?” Katanya memulai sore yang menenangkan. Pertama kalinya lewat udara ia menyapaku, tanpa perantara lainnya kami mulai bicara dan lucunya kami seperti sudah lama mengenal satu sama lain.

Dalam hati ada persetujuan, mungkin ia yang bisa disebut sebagai takdir berbalut kejutan.

Aku belum terlalu tahu siapa Bumi, apa yang ia pikirkan, makanan apa yang benar-benar tidak ia suka, olahraga apa yang begitu ia gemari, tempat apa yang selalu ingin ia kunjungi.

Aku belum tahu.

Aku yakin begitu juga dengannya. Bumi belum tahu apa lagu favoritku, buku apa yang sering ku baca, dan apa yang ku lakukan untuk mengisi waktu luangku.

Bumi belum tahu.

Kami sama-sama belum saling tahu.

***

Semakin lama ada frekuensi yang tidak pernah kami duga, ia merapat, aku mendekat, kami seperti berada dalam ruang tanpa sekat. Bicara tentang apa saja, menertawakan apa saja, mengagumi apa saja, membicarakan masa lalu dan masa depan seperti kami sudah lama saling mengerti.

Sampai pada suatu ketika kami berdua membicarakan hal yang sengaja menimbulkan gesekan emosi. Ia membahasnya lebih dalam saat aku hanya bertanya singkat tentang rasa.

“Apa pendapatmu tentang rasa dua manusia dalam satu frekuensi yang sama?”

“Sulit sekali pertanyaan itu untuk ku jawab. Mungkin karena aku pemilih. Menurutku rasa dua manusia yang berada pada satu frekuensi adalah pilihan bertahan untuk menempatkan gelombangnya dalam garis yang sama.

Aku sendiri belum pernah merasakannya, dengan siapapun. Aku berpikir selama ini keinginanku yang terlalu tinggi, tapi entahlah. Sepertinya bukan itu. Selama ini aku biarkan hati yang memainkan perannya. Ketika aku menemukan seseorang, maka aku akan segera memilihnya. Bagiku rasa seperti itu adalah sama seperti yang ku bayangkan ketika aku menonton dongeng-dongeng bahagia waktu kecil, tentang lirik-lirik lagu yang indah dan manis untuk dinyanyikan dan didengarkan, juga tentang baris-baris puisi yang membalut kerangka perasaan halusku. Aneh memang. Tapi aku masih percaya bahwa rasa kedua manusia jika dijadikan satu dalam frekuensi tertentu memang seharusnya seideal itu.

Jika tidak, mungkin sebenarnya frekuensi keduanya tidaklah sama.”

Jantungku berdegup melambat, ada yang ku lihat jelas saat ia bercerita tentang rasa, seperti harapan-harapan yang entah sengaja atau tidak sengaja telah ia bangkitkan.

“Jadi kau menginginkan yang sempurna?”, Tanyaku memastikan.

Bumi menjawabnya agak lama, “Mungkin. Aku pun tidak tahu.”

“Bagaimana denganmu? Apa yang kau pikirkan tentang itu?”, Ia balas bertanya dengan segera.

Pelan-pelan aku menjawab pertanyaan Bumi tanpa pernah ia ketahui.

“Rasa dalam satu frekuensi yang sama adalah Bumi yang tiba-tiba hadir menjadi dirinya, tanpa usaha yang terlalu keras ia berhasil membuat dirinya seperti artis papan atas, aku mulai memujanya. Terlalu mudah untuk ku kagumi.

Semua hal terasa sesuai dengan yang seharusnya ketika kami sedang bicara berdua. Tak hentinya aku ingin berbincang tentang apa saja dengannya.

Aku dengarkan baik-baik ceritanya di pulau Sulawesi, ceritanya saat membangun sekolah, ceritanya tentang hubungan yang terpaksa berpisah karena ia dan kekasihnya dulu tak lagi memiliki prinsip hidup yang sama.

Semua ceritanya senantiasa aku bungkus rapat-rapat di saku pikiranku untuk terus ku ingat-ingat. Agar sewaktu-waktu ia ingin bernostalgia, aku bisa menemaninya dengan menceritakan kembali kisah-kisahnya dan memberitahunya bahwa ia telah berhasil melalui banyak hal dan sampai pada titik tempatnya kini berdiri.

Dan jika suatu saat nanti ia memutuskan untuk menjatuhkan hatinya, pasti akulah yang sudah siap untuk menangkapnya.

Aku sudah ada di satu titik untuk menunggunya datang tanpa diminta. Dari manapun asal masa lalunya dan kemanapun ia akan melaju, semoga Bumi diizinkan untuk berdiri di titik yang sama denganku, di satu titik koordinat dimana waktu akan terhenti sesaat dan hanya kami berdua yang menikmatinya.

Semoga Bumi memimpikan hal yang sama denganku dan Sang Pengasih segera mengabulkan inginku.

Rasa dalam satu frekuensi yang sama adalah ketika aku dan ia berdoa akan hal yang sama dan Tuhan mengabulkan pertemuan doa di satu titik yang menerjemahkan bahasa mimpi kita.”

Sederhana, saat ia bertanya apa itu rasa dalam satu frekuensi yang sama, aku diam di depannya. Namun di hadapan Tuhan aku menjawab sekaligus berharap dengan terus-menerus menyebutkan nama Bumi di dalamnya. Yang mungkin tidak akan pernah ia ketahui. Namun begitulah caraku menjawab pertanyaannya.

***

Setelah aku semakin dalam berdoa, tiba-tiba Bumi tak datang lagi. Entah angin apa, entah hujan dari mana, entah bencana apa yang telah dibuat oleh Sang Pemilik Semesta. Jejaknya tak berbekas, sapa yang selama ini telah kami rangkai seketika tersapu tak jelas.

Pergi.

Begitu saja.

Seakan sia-sia, ia tak meninggalkan apa-apa selain tanda tanya.

Setelah Bumi menghilang, tidur tak lagi nyenyak, ingin tak lagi banyak. Lucunya aku masih tetap berdoa, memanggil nama Bumi di dalamnya, mengingat senyumnya, menyimpan ceritanya. Walaupun ada luka yang menganga saat menyadari bahwa selama ini aku terbiasa dengan Bumi yang selalu ada dan tiba-tiba ia tidak lagi ada.

Harusnya Bumi memberikan tanda-tanda untuk pergi, menitipkan alasan agar aku dapat memaklumi.

Tapi sayangnya tidak.

Bumi tak memberi rambu-rambu apapun agar aku mengerti tentang penyelesaian yang ia buat sendiri.

Aku mencoba berdamai dengan yang mungkin bisa disebut sebagai takdir berbalut kejutan.

Setengah hati ingin sekali aku membencinya, namun setengah hati ini justru berharap agar kelak ia kembali, ciptakan bahagia bersama lagi.

***

Hari Minggu aku habiskan waktu di taman seni untuk melihat sekumpulan anak-anak kecil menari. Aku lagi-lagi teringat bahwa Bumi begitu bahagia menyaksikan anak-anak kecil menari di tempat yang aku kunjungi ini.

Tiba-tiba sekali ada sentuhan di pundak kiriku seakan memanggil, kemudian aku menoleh ke belakang,

“Aku kembali.” Bumi berdiri di hadapanku, menyapaku dengan satu kalimat yang aku harapkan setiap hari.

Selama ini aku menunggu, mencari, berdoa selama ia tak ada.

Kemudian tepat setelah segala harapan dikabulkan, kami dipertemukan kembali. Entah harus bereaksi seperti apa.

Namun tiba-tiba juga ada yang berteriak lantang di dalam diriku, “Bumi, aku tidak lagi mengharapkanmu. Semua sudah berlalu.”

Aku tersenyum dan meninggalkannya.

Begitu saja.

***

“Like sunlight, sunset, we appear, we disappear. We are so important to some, but we are just passing through.” –Before Midnight.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *