penjaraaa

Ada bagian yang tidak sampai di sela-sela hari yang terlambat. Aku sudah berulang kali memakai hati setegar karang sebagai jimat yang tak sempat aku lihat kesaktiannya. Sudah berulang kali terperangkap namun aku membiarkannya. Karena ku rasa percuma keluar dari tempat yang membuatku sudah merasa cukup. Sempat aku berpikir jangan-jangan sudah selesai semua kesempatan untuk meneruskan perjalanan. Aku dan diriku sendiri.

Kebanyakan orang takut dengan ketiadaan. Setidaknya banyak yang hampa dalam kesendirian, tak bisa membaca makna, tak sanggup merangkai cerita. Tapi hal yang paling mengerikan adalah ketika divonis bersalah tanpa penjelasan. Sungguh untuk bagian itu, aku sendiri tak cukup kuat untuk mengikhlaskannya.

“Aku rasa sudah tak ada lagi. Sudah tak mungkin lagi. Sudah tak bisa lagi. Kita adalah aku yang hendak pergi dan kamu yang tak membiarkannya.”, begitu katamu malam itu.

“Lantas bagaimana dengan janji yang pernah kita siapkan untuk masa depan?”, aku berharap masih ada aku dalam kita.

“Aku hanya tidak ingin mengatakan apapun. Aku hanya ingin segera pergi. Berdiri sebelah hati membuatku hampir mati berkali-kali.”, suaranya berat dan bergetar.

Aku menatapnya dalam-dalam, ku beritakan semua yang aku rasakan dan ingin ku ungkapkan untuk jangan pergi dari ruang ini. Sedang ada amarah dalam bola matanya yang aku tak tahu apa. Sesaat ku rasa oksigen pun tak melintas di ruang ini. Tenggorokanku tercekik, mataku menumpuk kekecewaan, dan batinku berteriak walau tak ada yang mendengar.

“Tidak saat ini.”, katanya menerangkan sekaligus mempertegas.

“jadi?”

“biarkanlah kita menikmati waktu masing-masing dan tak perlu selalu kembali. Kau tak akan terkurung lagi. Kau bebas mengelilingi dunia ini tanpaku”, jawabnya lambat.

Kadang menerima ada pilihan, atau kadang takdir yang harus dijalankan. Aku membebaskanmu, melakukan apapun semaumu. Dan aku masih terkurung di sini, di ruang tanpa udara, tanpa penjelasan mengapa keputusanmu tak sedikit pun melibatkanku.

Kini adalah waktu untuk saling melepaskan, menghempaskan, dan membiarkan. Kita tak pernah memilih takdir tapi kita selalu berhak memilih tujuan setidaknya memilih jalan untuk ditempuh.

Sesekali aku menginginkan kembali ke penjara, asal ku tahu ada kau di sana. karena bebas namun tanpamu seperti di dalam jeruji kosong tak berpenghuni.

Aku masih berharap kita akan bertemu lagi, berbincang tentang semua tema, dan kita bebas di ruang kita untuk menjadi sendiri. Tidak kah kau rindu akan hal itu?

Tapi aku cukup mengerti, kadang bersama tidak selamanya bahagia. Mungkin jarak akan membuat kita saling merindu, setidaknya kita akan bertemu di dalam imaji saat mengingat-mengingat yang dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *