Aku berlari ke perpustakaan usang tempat kita biasa menghabiskan siang menjelang petang. Kupercepat langkahku menuju ke arah satu lorong tempat kesukaan kita biasa berbincang sesaat setelah aku menemukan pesannya lewat SMS tadi pagi.

Carilah buku bersampul abu-abu. Aku menulis sesuatu agar kini kau tahu tentangku.

Di lorong ini aku ingat betapa ia selalu antusias menceritakan bagian-bagian terpenting dalam buku-buku yang baru saja ia baca. Suatu waktu setelah ia baca buku “1001 Hal-Hal Aneh yang Terjadi di Dunia” kemudian ia katakan,

“Hal yang paling aneh di dunia dan tidak ditulis di dalam buku ini adalah saat aku sadar bahwa aku begitu mencintai cerita di semua buku yang kubaca, sama cintanya dengan saat aku menceritakan kembali kisah-kisah dalam buku-buku itu kepadamu.”

Dia seharusnya tahu betapa peristiwa ‘menceritakan kembali buku yang telah kau baca’ adalah peristiwa terbaik dalam hari-hariku. Bagaimana tidak, saat itulah di mana kita duduk berdua, jarak kita tidak kurang dari 45cm, aku begitu leluasa memperhatikan matanya yang kecoklatan, alisnya yang tebal, dan rahangnya yang tak pernah pegal karena bicara lebih dari satu jam. Aku begitu menyukai semua ceritanya, semua orang di dunia ini pasti tidak ada yang menyangka kalau si kutu buku sepertinya begitu lincah saat bercerita, aku pikir dia pendiam, tapi ternyata…

“Dan keanehan yang lebih tidak masuk akal lagi, hanya kepadamulah aku ingin menceritakan semua hal yang aku ketahui. Aku tidak pernah tertarik menceritakan sesuatu kepada orang lain. Aku tak pernah percaya mereka akan mendengarkan. Namun denganmu semua terasa berbeda, dari matamu kulihat kau selalu mendengarkanku bahkan sebelum aku mulai bicara.” Katanya menggebu-gebu saat menjelaskan keanehan-keanehan dunia. Dia bilang saat kami bersama, segala keanehan akan selalu muncul dan keanehan itu tak akan dicatatkan dimana-mana selain di dalam memori kami berdua.

Dia tersenyum bercanda dan aku tertawa. Aneh. Tapi nyata. Dia adalah satu-satunya hal aneh yang paling aku maklumi keanehannya.

Kuhentikan nostalgia tentang kami sesampainya aku di lorong rak buku setelah kutemukan buku berwarna abu-abu seperti petunjuk yang tadi pagi ia beri tahu. Aku buka halaman pertama dan kutemui tulisannya disana…

Aneh. Tapi nyata. Aku lupa selama ini ia hanya bercerita tentang buku-buku yang ia baca saja, tidak dengan pikiran dan perasaannya juga. Bodohnya aku tidak pernah bertanya. Dan kini aku sadar bahwa aku tidak pernah benar-benar tahu siapa ia sesungguhnya.

Aku terdiam. Melihat tulisannya dengan tinta biru dan membaca berulang-ulang empat baris terakhir di halaman itu.

Harus bagaimana jika ragu meminta
Aku untuk pergi walau sementara
Kuyakinkan hati akan ada saatnya kembali
Tuk wujudkan mimpi bersama

Seketika aku tak percaya, kini keanehan justru terjadi saat kami tidak bersama.

Aneh. Tapi nyata.

Pesannya membuatku menduga-duga.

Dia akan kembali atau bagaimana?

(to be continued)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *