“Imran!”, Teriakku memanggil seorang laki-laki dengan kemeja putih dan celana hitam, berjalan membelakangiku yang tengah ragu memanggilnya. Kemudian samar-samar aku lihat ia dari kejauhan, memastikan bahwa benar namanya adalah nama yang selalu kunantikan.

Ia tak menoleh.

Waktu terasa berhenti. Untuk aku yang berdiri. Untuk aku yang memastikan bahwa benar ia telah kembali.

Aku yakin setiap manusia memiliki waktu yang benar-benar dinantikan, seperti pertemuan yang selama ini diidam-idamkan. Mungkin hari ini, terjawablah segalanya, segala penantian yang menguras seluruh kesabaran karena lama tak bertemu. Seorang manusia dengan senyum yang selalu aku ingat teduh matanya, yang telah pergi bertahun-tahun dengan hanya meninggalkan satu buku berwarna abu-abu dengan tulisan tangannya berisi pesan yang lebih mirip seperti teka-teki. Hanya pesan di dalam buku itulah yang jadi satu-satunya penawar rindu untukku. Semoga hari ini benar adanya, ia benar-benar kembali.

Lama setalah ku panggil namanya namun ia tak juga menoleh.

Diam dan tetap berjalan membelakangi aku yang telah memanggilnya berkali-kali.

Ku kejar ia lebih cepat, ku panggil lagi namanya lebih keras.

Tak juga ia menoleh ke arahku.

Apa mungkin namanya berubah atau ternyata aku yang salah? Apa mungkin laki-laki itu bukan seseorang yang selama ini aku nantikan?

Tiba-tiba aku dengar suara bel alarm berbunyi, tambah lama tambah keras dan memekakkan telinga. Aku buka mata dan ternyata aku masih ada di atas kasur putih lengkap dengan selimut yang membungkus badanku yang bangun dengan penuh keringat.

Ada rasa tidak percaya bahwa tadi hanya mimpi. Segala rasa kecewa telah berkumpul menjadi satu karena lagi-lagi aku harus menelan kenyataan bahwa kepulangannya hanyalah kejadian semu.

Sejenak konsenterasiku tentang mimpi buyar mendengar kerasnya bunyi telepon genggamku, ada satu pesan penuh harapan muncul memecah kekecewaan,

Mbak Mei dimana? Acaranya udah mau mulai. Mas-mas yang aku ceritain semalem juga udah dateng, dia nyariin Mbak Mei daritadi. Cepetan ya Mbak.

Tadi, dalam mimpi, laki-laki itu bukan tidak nyata, namun mungkin belum menjadi nyata. Hari ini harus kubuktikan bahwa ia telah kembali ada.

Tapi bagaimana jika seseorang yang telah hadir itu bukanlah ia yang kutunggu?

Ku pandangi cermin di sebelah kiri kasur tidurku, pelan-pelan aku bertanya dalam diam,

“Apa aku sudah siap kembali kecewa?

*to be continued*

2 Responses to Duga (3)
  1. Mbak Mut, pengen baca lanjutannya 🙁

  2. Mut..lanjutin dong…


[top]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *