Setelah lima tahun ia tak berkabar, aku tak lagi menanti hari-hari yang tak mungkin lagi ia kunjungi. Dengan buku bersampul abu-abu, ia meninggalkan pesan yang tak dapat aku kaji maksudnya. Setelah itu, pada hari-hari berikutnya aku mempersilahkan siapapun masuk ke dalam waktuku, menemaniku, membuang detik demi detik secara percuma agar pelan-pelan tak terlalu rindu dengannya. Aku kadang-kadang berharap jika nanti aku dan ia bertemu, mungkin aku sudah jadi hantu dan menakutinya. Agar ia tahu rasanya resah, cemas, dan mengharapkan ketenangan karena terlalu rindu. Sedikit sudut pikirku, aku ingin sekali membalaskan dendam tentang rasa rindu kepadanya yang menahun mencumbu kerangka otakku.

Sesaat sebelum tidur kulihat ke dinding kamar ada tulisannya yang kutulis ulang. Seperti jampi-jampi aku sering membacanya dalam-dalam, bahkan lama-kelamaan aku sudah hapal.

Ku lihat bulan bersinar sendirian
Di langit kelam tepat waktu tengah malam

Berikan aku
Setitik pancarmu
Ajarkan arti tegar

Terdengar mimpi yang sedang terlelap
Senandung tawa penuhi dunianya

Berikan aku rahasiamu
Untuk hadapi
Semua gundah

Harus bagaimana jika ragu meminta
Aku untuk pergi walau sementara
Ku yakinkan hati akan ada saatnya kembali
Tuk wujudkan mimpi bersama

Tepat pukul 00:13 WIB hampir saja aku terlelap setelah melafalkan kata-katanya yang ada pada dinding kamarku, tiba-tiba bunyi dering telepon genggam yang lupa aku matikan berbunyi begitu keras, dengan malas aku mengangkat telepon tengah malam dari salah satu karyawan kantor kepercayaanku.

“Mbak Mei tadi ada yang mirip banget sama laki-laki yang waktu itu Mbak tunjukin fotonya ke saya. Tadi dia daftar acara grand launching buku-buku kita minggu depan. Tapi serius ya dia gantengan yang sekarang Mbak!” Cerita Dina panjang lebar tanpa mengucapkan salam dan jeda untuk bernapas.

“Duh kamu malam-malam begini telepon saya cuma mau bilang ini? Kamu salah liat orang kali, lagi pula laki-laki yang saya ceritakan itu nggak akan berubah jadi ganteng, karena dia nggak jadian sama saya. Orang kalau mau ganteng itu syaratnya harus jadian dulu sama saya, Din.” Jawabku ringan sambil bercanda.

Dina menghela napas panjang,

“Ih, Mbak mah. Serius ini. Ganteng! Dan saya nggak mungkin salah, insting saya terhadap laki-laki kuat sekali Mbak. Sungguh! Dan saya tambah yakin karena namanya juga persis banget sama kayak yang sering Mbak sebut-sebut kalau sedang ketiduran di kantor. Imran, kan?”

Aku terpaku. Tak pernah kudengar lagi namanya disebut orang lain. Imran?

“Kamu yakin itu namanya? Dia tulis namanya atau kamu dengar orang yang panggil namanya?”

Dina berkata singkat,

“Dua-duanya, Mbak Mei.”

(to be continued)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *