… aku tidak mengharapkan apapun selain dapat bertemu denganmu, bicara tak kenal waktu, mengabadikan pancaran pandanganmu, dan merekam senyum yang membuat jantungku bertengkar dengan aliran darah karena laju yang bekerja tak menentu.

Jumat pagi tepat pukul empat, aku tidak bisa tidur lagi. Setelah hampir bertahun-tahun tidak bertemu, ada ekspektasi baru dalam diri ini, aku akan melihatmu lagi dan pastilah kau akan lebih mengagumkan dari pertemuan kita sebelumnya, aku tahu pasti akan begitu. Disusul dengan ingatan akan suaramu yang bergema di telingaku, aku tentu tidak bisa tidur lagi. Aku menunggu pagi tak seperti biasanya, aku siap untuk bertemu denganmu namun tak siap jika ternyata kau tak begitu menginginkan pertemuan ini… detak detik berdebar tak karuan. Aku tahu, aku akan terlambat, tapi tidak tahu bahwa akan selama itu. Sepanjang jalan menjemputmu, aku gelisah, antara rindu dan rasa terburu-buru ingin melihatmu. Namun susunan balok-balok aspal di ibukota selalu membuatku belajar bersabar, sama seperti saat menunggu kabar kapan kita bisa bertukar cerita lagi.

Lambat waktu terasa bergerak, saat bunyi pintu mobilku terdengar terbuka karena kedatanganmu. Kau datang tanpa senyum yang kuharapkan. Mungkin kau benci menunggu, karena aku yang terlambat. Aku berpura-pura tidak kecewa karena gagal melihat senyummu sesaat setelah detik pertama kedatanganmu. Ku cari cara bagaimana mendapatkan senyummu lagi.

Sementara itu, kurasakan atmosfir yang tak seperti biasanya, ada canggung yang tak jelas dan sudah pasti tak kuharapkan. Ada jarak yang tak aku mengerti datang darimana. Berikutnya jarak ini seperti merangkul kita berdua. Berada sedekat kaca dan kayu jendela yang saling mendekap, namun tetap memerlukan rongga. Aku berpikir lebih keras lagi, mencari cara membunuh jarak yang membuat kita terasa asing satu sama lain. Perlahan aku keluarkan lelucon-lelucon murahan untuk membuatmu tertawa (kalaupun tak sampai kau tertawa… namun setidaknya aku sudah berusaha). Berkali-kali kucoba, akhirnya terdengar juga tawamu. Senyummu yang awalnya kaku, lambat laun tampak juga tawamu yang sebenarnya. Aku bahagia, tanpa butuh alasan nyata. Karena bahagiamu adalah segalanya.

Melihat senyummu yang butuh perjuangan untuk aku dapatkan, aku berjanji, apapun yang kau mau (semoga) akan (bisa) aku penuhi (kalaupun tak sampai, setidaknya aku akan berusaha). Aku merasa menyayangimu begitu dalam, sampai merasa bahwa aku juga turut bertanggungjawab untuk mempertahankan senyummu. Sampai saat harus mengantarmu, detik-detik di mana kita tak akan bertemu lagi untuk waktu yang tak ditentukan, kau menyinggung hal yang tak terpenuhi dan bagiku begitu mengganggu. Kau mengulangnya berkali-kali, seperti menyudutkan, seperti seharusnya waktu selama kurang lebih tiga jam yang kita habiskan bersama lebih baik kau habiskan dengan rencanamu sendiri dibandingkan dengan yang sudah kita lewati berdua. Aku tertekan dan memilih diam.

Sesampainya mengantarmu, belum sempat aku berterima kasih untuk waktu yang kau luangkan dan kandaslah niat untuk memberikanmu secarik kertas berisi tulisan rindu dan roman, lantas kau seperti terburu-buru pergi begitu saja tanpa pesan.

Untuk pertama kalinya aku merasa begitu tidak kau hargai. Aku pulang dengan banyak tanya (juga berbagai pembenaran)… bahwa kau tidak apa-apa dan kita baik-baik saja.

Tapi sepertinya tidak, aku tidak tahu apa, seperti ada yang kau sembunyikan.

Dengan demikian, bisakah kita saling bicara agar aku tahu sebenarnya…

kita…

ada apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *