Fiksi

10Apr 2017

… aku tidak mengharapkan apapun selain dapat bertemu denganmu, bicara tak kenal waktu, mengabadikan pancaran pandanganmu, dan merekam senyum yang membuat jantungku bertengkar dengan aliran darah karena laju yang bekerja tak menentu. Jumat pagi tepat pukul empat, aku tidak bisa tidur lagi. Setelah hampir bertahun-tahun tidak bertemu, ada ekspektasi baru dalam diri ini, aku akan melihatmu […]

31May 2016

Di lorong stasiun aku berjalan terkulai tak berdaya, menahan segala amarah yang sudah lama aku bawa kemana-mana. Kini berganti aku yang meninggalkannya dan seperti ada rasa bangga sekaligus sesal yang bergemuruh dalam dada. Sebelum aku naik kereta api ke Yogyakarta, ia berlari dengan bertemankan keringat yang mengucur di ujung dahinya. Ia yang menghampiriku tanpa berkata […]

18Mar 2015

Satu. Dua.. Tiga… Sudah tiga tahun, bukan waktu yang sebentar untuk sekadar mengenal, setidaknya bertukar cerita, dan menitipkan rasa satu sama lain. Sudah tiga tahun juga aku diberikan predikat sepihak oleh orang di luar aku sebagai seorang “Peragu”. Mungkin karena seharusnya sebagai seorang manusia biasa, aku begitu merasa berharga dan mudah tersanjung ketika ada yang […]

20Nov 2014

“Imran!”, Teriakku memanggil seorang laki-laki dengan kemeja putih dan celana hitam, berjalan membelakangiku yang tengah ragu memanggilnya. Kemudian samar-samar aku lihat ia dari kejauhan, memastikan bahwa benar namanya adalah nama yang selalu kunantikan. Ia tak menoleh. Waktu terasa berhenti. Untuk aku yang berdiri. Untuk aku yang memastikan bahwa benar ia telah kembali. Aku yakin setiap […]

28Oct 2014

Setelah lima tahun ia tak berkabar, aku tak lagi menanti hari-hari yang tak mungkin lagi ia kunjungi. Dengan buku bersampul abu-abu, ia meninggalkan pesan yang tak dapat aku kaji maksudnya. Setelah itu, pada hari-hari berikutnya aku mempersilahkan siapapun masuk ke dalam waktuku, menemaniku, membuang detik demi detik secara percuma agar pelan-pelan tak terlalu rindu dengannya. […]

23Oct 2014

Aku berlari ke perpustakaan usang tempat kita biasa menghabiskan siang menjelang petang. Kupercepat langkahku menuju ke arah satu lorong tempat kesukaan kita biasa berbincang sesaat setelah aku menemukan pesannya lewat SMS tadi pagi. Carilah buku bersampul abu-abu. Aku menulis sesuatu agar kini kau tahu tentangku. Di lorong ini aku ingat betapa ia selalu antusias menceritakan […]