Di lorong stasiun aku berjalan terkulai tak berdaya, menahan segala amarah yang sudah lama aku bawa kemana-mana.

Kini berganti aku yang meninggalkannya dan seperti ada rasa bangga sekaligus sesal yang bergemuruh dalam dada. Sebelum aku naik kereta api ke Yogyakarta, ia berlari dengan bertemankan keringat yang mengucur di ujung dahinya. Ia yang menghampiriku tanpa berkata apa-apa, kemudian hanya peluk yang ia sampaikan sambil meletakkan selembar kertas di kantong jaketku yang tak terlalu tebal. Aku lepaskan pelukannya dan ia menatapku lekat seperti mengiba. Aku yang masih berselimutkan kecewa dan marah yang sulit padam padanya, seketika mengambil tas dan membalikan badan ke arah pintu kereta, seakan tak peduli, emosi mengedepankanku untuk segera pergi setelah selama tiga bulan ini ia yang menghilang tanpa pesan.

Aku berlalu, tanpa ada keinginan untuk menoleh ke arahnya lagi.

Darahku mendidih. Pikirku tentangnya hanyalah….. dendamku padanya karena ditinggalkan harus terbalaskan.

*****

Kujejakkan kakiku di tanah Yogyakarta, kumasukkan jemari tanganku yang kedinginan karena tiba terlampau larut dan aku temukan selembar kertas yang tadi sempat ia letakkan di saku sebelah kanan.

 

Sayang,

Baru saja jarak terbentang

Entah guncangan apa yang tiba-tiba datang

Namun kita sama-sama tahu, pertarungan ini tidak akan ada yang menang

 

Sayang,

Aku dan kamu dipisahkan jurang

Antara kerinduan dan kegelisahan – kita seperti terperangkap dalam perang

Dan kita sama-sama tahu, setiap malam kita berdua tidak akan pernah tidur dengan tenang

 

Sayang,

Karena tidak akan mungkin terus-menerus seperti ini menyenangkan, maka mungkinkah kita sama-sama kembali?

Bolehkah kita berdua yang memperbaiki segala yang usang atau yang telah rusak tak terkendali lagi?

Karena melakukannya seorang diri, tidaklah sangup aku usahakan berkali-kali

 

Sayang,

Aku membutuhkanmu

 

Sayang,

Sekali lagi

Aku membutuhkanmu

Menghirup senyummu

Membelai rindumu

Mengusap cintamu

Mengabadikan tatapanmu

Memeluk resahmu

Menenangkan jemarimu

 

Aku yakin kau juga begitu

Maka berikanlah ruang untuk kita dapat duduk berdua

Kembalilah kita menjadi kita

Selalu

 

Gemetar di tanganku membaca deretan huruf di atas kertas yang sebenarnya tak ingin aku terima di depan kereta di Stasiun Kota. Entah logika atau rasa yang menjadi juara, aku lipat kertas itu kembali dan aku masukkan ke dalam saku celana. Aku berjalan bergegas seperti orang kesurupan ke depan loket Stasiun Tugu.

Aku tahu, detak jantungku tak lagi sanggup menunggu, ada yang harus diselesaikan antara aku dan dia, yaitu perasaan rindu yang telah berbulan-bulan aku tahan tanpa kepastian. Sambil menahan mataku yang basah karena mengingatnya, aku melihat kata “Jakarta” yang tertera pada karcis yang baru saja kubeli tanpa berpikir dua kali.

Segala amarah tentangnya terhempas seketika aku menyadari bahwa rindu ini lebih hebat dari apapun dan aku harus segera kembali.

Menemuinya,

memeluknya,

selama waktu yang kami bisa,

dan kuharap setelah ini adalah yang selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *