Assalamualaikum teman-teman sekalian!

Akhirnya ngeblog lagi, gue pengen ngeblog karena semaleman baru aja blogwalking. Terus pas blogwalking malah sampai di tulisan blog sendiri… gue baru inget kalau pernah nulis sesuatu yang lumayan juga isinya, ga nyampah doang hahaha

Makanya ini sekarang jadi pengen ngeblog lagi, mudah-mudahan ga nyampah ya hehehe

Kemarin-kemarin gue baru aja dapet curhatan seorang saudara yang ga mau balikan sama mantannya padahal mantannya ini baik banget. Waktu gue tanya “Kenapa ga mau balikan, kan dia baik?” Saudara gue ini hanya menjawab ringan, “Engga aja.”

Okay setelah itu gue berhenti dengan mendengar jawaban yang singkat, (ga terlalu jelas), dan padat.

Mungkin sebagian kita pernah mengalami hal yang sama.

Gue pernah juga ditanya hal yang sama waktu SMA, ada seorang cowok yang baik dan pintar, waktu teman gue tanya berulang-ulang kenapa gue ga mau sama cowok itu. Gue juga santai menjawab, “Ya engga aja rasanya. Gue ga bisa.”

Gue jadi memutar otak gue lagi, apakah gue pernah ada di posisi sebaliknya menjadi orang yang menurut orang lain baik tapi yang orang lain itu bilang tentang kenapa ga bisa/ga mau deket sama gue dengan… “Ya engga aja.”

Hal ini pasti ga cuma berlaku di hubungan percintaan, tapi juga di semua hubungan. Apapun itu. Dan gue pun pernah mengalaminya yang akhirnya membuat gue mempertanyakan,

“Apa benar jadi baik aja ga cukup?”

Mungkin teman-teman sekalian, termasuk gue pernah mengalami di mana kita merasa sudah berperilaku cukup baik kepada seseorang, dua orang, atau sekumpulan orang. Tapi hal itu tidak berbalik ke kita. Satu, dua, atau sekumpulan orang itu… ya ga baik aja. Atau ga sebaik yang kita harapkan.

Di sini bukan berarti orang yang udah kita baikin itu adalah jahat, bukan gitu… Tapi mungkin kadar baiknya yang beda. Gue percaya sih setiap manusia pada dasarnya baik, tapi baik yang ada di setiap otak manusia dengan berbagai kadar tertentu rasanya emang beda-beda.

Kalau kita ngerasa sangat sudah baik ke orang, trus kita ngerasa orangnya kok kampret ya ke kita… huffff

Kemudian kita mempertanyakan hal-hal aneh seperti…

“Am I noot good enough?”

“Why do I have to feel like lost then?”

Dan lain sebagainya.

Yang mungkin bisa bikin kita gila adalah waktu kita mulai mengingat-ngingat apa yang udah kita coba lakukan buat orang itu. Tanpa instruksi, tanpa ingin imbalan, tanpa ingin embel-embel lain, kita melakukan berbagai usaha buat bikin orang itu bahagia. Kita merasa langkah-langkah yang kita lakukan sudah baik untuk kita usahakan buat orang itu. But yang bisa bikin kita depresi at the end adalah… orang itu ternyata ga butuh kebaikan kita atau orang itu ga membalas kebaikan kita.

Dan lebih perih lagi pas kita mempertanyakan kenapa orang itu ga bisa ngehargain apa yang udah kita kasih dan jawabannya adalah….

“Lah? Gue kan ga pernah minta itu dari lo? Kenapa lo jadi pusing sendiri?”

I know, it feels like broken heart. Mungkin tiap kita inget peristiwa yang kaya itu selalu mempertanyakan apa sih definisi baik dan untuk apa menjadi baik bahkan sangat baik buat orang lain, kalau ternyata menjadi baik pada akhirnya ga dibutuhkan sama orang itu?

Mungkin kalau casenya kaya gitu, kita bisa inget jawaban saudara gue yang menolak balikan sama mantannya yang baik dan dulu waktu gue abege gue juga melakukan hal yang sama.

“Kenapa lo ga sama dia aja? Dia kan baik?

Jawabannya, “Engga aja.”

Atau jawaban teman gue yang ditanya tentang rekan kerjanya,

“Lo kenapa ga ikut project dia sih? Projectnya kan asik?”

Jawabannya, “Duh ga bisa gue kerja sama dia, ga bisa aja pokoknya.”

Mungkin jawaban itu bisa kita balikin ke diri kita sendiri saat kita mempertanyakan hal itu ke Sang Pengasih setiap kita berdoa.

“Kenapa semua hal baik yang udah pernah gue lakukan ga cukup buat orang lain?

Apa yang menurut gue baik ini ternyata ga baik buat orang lain?

Apa sih baik itu? Harus gimana?

Atau ternyata orang itu juga baru ngeh kalau dia ga cocok sama apa yang kita anggap baik untuk kita lakukan buat dia?

atau

atau

atau

dan atau yang lainnya………”

Semakin kita mempertanyakan, semakin itu juga mungkin kita bisa tambah pusing dan rasanya pengen menyendiri aja ke pulau terpencil di timur Indonesia huahahaha

Tapi mungkin jawaban dari Sang Pengasih atas semua “KENAPA” dan “ATAU” kita itu adalah…..

“Ya, engga aja.”

……….

……….

……….

Kemudian pertanyaan gue apakah baik aja ga cukup? Gue coba pikir-pikir lagi…

Menurut gue berbuat baik, setia, menyayangi kepada orang lain, benda, hewan, tanaman, dan lainnya adalah fitrahnya manusia. Ketika kita melakukan hal-hal yang menurut kita baik dengan sadar, tulus, dan penuh kasih untuk orang lain walaupun orang lain itu ga akan membalas hal serupa atau bahkan ga butuh itu dari kita ,harusnya ga lantas bikin kita berhenti untuk tetap jadi baik.

Kalau kita berhenti jadi baik, berarti kita berhenti buat jadi manusia seutuhnya.

Terus gimana kalau kita trauma berbuat baik sama orang yang udah ga baik ke kita?

Mungkin yang harus sangat disadari (sayangnya ternyata) bukan kita orang yang tepat buat orang itu untuk saling berbalas kebaikan dengan kadar yang sama sesuai dengan ekspektasi kita. Mungkin ada orang baik lainnya yang orang itu inginkan dan orang lain itu butuhkan, mungkin orang itu bukan kita. Ya bukan aja….. tapi harusnya itu ga jadi legitimasi untuk kita berbuat ga baik atau ga berbuat baik ke orang itu.

Walaupun gue kepikiran sih sekali-kali pengen jahat ah, pengen bodo amat ah sama orang… Tapi gue mikir lagi, gue ga bisa, itu lebih menyiksa gue daripada apapun.

Lagian ukuran baik atau enggaknya seseorang kan bias banget kalau mau dinilai secara spesifik. Terlalu subjektif.

Yang gue tahu, gue akan terus usaha untuk jadi manusia dengan segala sifat-sifat fitrah yang diturunkan Tuhan kepada manusia. Itu membuat gue lebih damai di dalam.

Kalau kita terus mempertanyakan kenapa orang lain ga bisa baik sama kita yang jelas-jelas kita udah baik sama orang itu? Itu nanti malah bisa bikin kita depresi karena mungkin jawabannya adalah emang… “Engga aja.”

Catatan penting adalah bisa menjadi orang yang menurut kepala kita baik… kayanya harusnya udah bikin kita cukup bangga dengan diri kita.

Dan kebaikan harusnya menyenangkan sekaligus ga bisa dipaksakan.

Jadi kita juga ga bisa memaksa siapapun untuk membalas kebaikan yang udah kita lakukan sesuai harapan yang ada di kepala kita… karena mungkin itulah keputusan yang membuat orang lain itu senang untuk orang itu lakukan. Dan kita harus dengan dewasa menghadapinya.

Jadi ya kalau sekarang yang di otak gue bukan… baik aja ga cukup.

Baik aja ga (akan pernah) cukup kalau kita mengharapkan kembalinya kebaikan yang kita kasih buat orang lain akan berasal dari manusia juga, bukan dari Sang Pengasih.

Karena gue percaya sifat baik adalah fitrah setiap manusia dan kebaikan akan selalu dibalas dengan kebaikan.

Rasa percaya akan hal itu pun menguat setelah membaca langsung kalimat yang dijanjikan Sang Pengasih dalam surat cinta-Nya QS. Ar-Rahman ayat 60:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”

Gue yakin, Sang Maha Baik selalu menginginkan hamba-Nya meniru (walaupun sulit) sifat-sifatNya.

Karena hidup cuma sebentar, jadi yaudahlah, enaknya kita semua jadi baik-baik aja. Terus belajar, karena bisa jadi persepsi tentang baik dan ga baik selalu berubah di setiap detiknya, tergantung pemahaman kita tentang dunia.

Lain kali gue akan bahas tentang tema ‘Baik’ lainnya.

Jadi… sampai ketemu di postingan blog Muthia selanjutnya 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *