Assalamualaikum teman-teman pembaca blog semua! Apa kabar?

Kalau teman-teman berharap gue akan spread the positivity melalui tulisan ini, ada baiknya diclose aja pagenya. Karena mungkin kebanyakan dalam tulisan ini gue akan mengeluh dan galau hahaha

2017 adalah tahun yang baik, jangan salahkan waktu kalau banyak hal ga baik menimpa kita, jangan juga selalu dicari salah siapa. Kenapa harus selalu ada yang salah sih kalau ada hal buruk menimpa kita? hahaha

Gue udah lama banget ga ngeblog kaya review setahun belakangan, kayanya terakhir 2-3 tahun lalu.Gue juga lupa kenapa. Tahun ini gue mau nulis lagi, ga tau kenapa rasanya harus di blog, karena gue mau cerita aja hahaha

Di tahun 2017 ini adalah tahun pertama gue jadi ibu. Super happy dan fun, walaupun pegel dan kurang tidur, tapi anak gue sangat baik dan menggemaskan, jadi hilanglah segala permasalahan jadi ibu baru. Gue ga punya masalah yang berat sebagai ibu, kecuali mendengar orang lain menilai kalau gue kurang baik sebagai ibu. Ternyata ini ditemukan di mana-mana. Hampir dua bulan setelah Aina lahir sampai beberapa hari belakangan ini, nggak disangka-sangka ternyata menjadi ibu juga dipenuhi judgemental lainnya seperti…

“Kok anaknya merah-merah sih pipinya, ga becus nih ibunya, ga rajin ngelapin bayi abis minum ASI…”

“Kok anaknya rambutnya tipis sih? Ibunya ga ngasih kemiri?”

“Kok anaknya kurusan? Kenapa?”

“Kok anaknya… blablabla… dsb.”

Gue paham sebagai ibu baru, yang baru aja punya anak satu, ketidaktahuan gue akan banyak hal luar biasa banyaknya. Merawat bayi sesuai pemikiran banyak orang (yang terutama ibu-ibu) membuat gue bertanya-tanya… apakah ibu-ibu yang suka komen menjudge dan merendahkan ibu baru macam gue ini, mereka pas pertama kali punya bayi selalu tau semuanya? Gue ngerti kalau mungkin budaya kita seringkali menasihati untuk kebaikan, gue ga ada masalah dengan itu tapi kayanya caranya sering salah. Buat gue yang tipe pembelajar, gue suka sekali belajar akan hal-hal baru, mengenal banyak hal baru, mencari tahu tentang banyak hal, dan lain sebagainya. Lantas yang membuat semua jadi rumit adalah ketika penghakiman muncul seolah-olah gue sebagai ibu salah, udah, selesai.

Tapi it doesn’t really matter lagi karena di tiga bulan awal kelahiran Aina gue yang masih emosi tapi setelah itu gue baca banyak sharing ibu-ibu lainnya yang baik-baik. Gue percaya ga ada seorang ibupun yang ga mau yang terbaik buat anaknya. Jadi buat yang sering komentar negatif ke ibu lainnya, yaudah, gue anggap aja mereka kurang hiburan hahaha

Jadi gue ga ada masalah yang berarti selama kurang lebih 10 bulan ini jadi seorang  ibu.

Masalah lain juga gue ga tau kenapa gue pusing liat media dan sosial media. Orang ribut di mana-mana, kekacauan berhamburan di muka bumi, kebencian bertebaran, kasus bunuh diri, orang merasa lebih baik dari orang lain, prostitusi hewan, pokoknya semua jadi gila rasanya. Gue pengen sekali-kali ga baca berita tapi ga bisa, gue pengen tau juga. Salah sendiri ya hahaha emang kadang-kadang enakan ga tau apa-apa, dibanding tau banyak hal. Jadi inget ibu-ibu yang nenun kain di Sumba, selawww… Tapi yaudah dunia emang udah gila, I have to deal with it sebagai warga dunia at least gue jangan nambahin masalah aja. Jangan ikut ngejudge orang lain, jangan pake plastik berlebihan, jangan mendukung pembunuhan paus di laut, dan lain-lain.

Tapi sejatinya masalah besar lainnya justru bersumber dari gue sendiri. Di usia ini, umur gue 25. Kata orang-orang umur ini lumayan agak ngeselin, di mana krisis antara emosi abege bercampur dengan tanggung jawab beranjak dewasa. Semacam perbatasan. Kaya tipis banget jaraknya. Seketika hidup gue lebih banyak seriusnya daripada santainya. Gue dihadapkan dengan banyak sekali pilihan yang ga bisa gue pillih dan kadang bahkan gue dihadapkan dengan ga adanya sama sekali pilihan. Semua serba membingungkan. Bingung kan? Gue juga! Hahaha

Tahun ini selain ada beberapa hal yang tentu saja membahagiakan buat gue, tapi ada hal-hal besar yang sangat mengecewakan gue. Ga bisa gue share detail tentang kekecewaannya tentang apa, tapi seketika semuanya menyadarkan gue kalau hidup ini sewaktu-waktu akan memeluk kita dengan depresi, ketakutan, dan kekhawatiran.

Gue cuma berpegang ke agama. Ga tau lagi mau ke mana.

Gue ini bukan tipe yang suka curhat, yang senggol dikit curhat gitu. Gue sangat pemilih untuk mau cerita ke siapa, sharing hal-hal personal ke siapa, dan memberikan sisi gue yang paling dalam ke siapa. Walaupun di samping itu, gue selalu senang bicara dengan siapa aja tentang apa aja.

Beberapa kali gue bilang ke beberapa orang terdekat gue kalau gue lagi krisis, rasanya gue banyak gagalnya, tiba-tiba gue ga tau mau ngapain. Kaya demotivasi. Belenggu itu ada di gue sendiri. Ada yang ga selesai tentang banyak hal di diri gue sendiri.

Hal ini masih berlanjut sampai sekarang dan gue juga ga tau selesainya kapan.

Tapi pelan-pelan gue udah lebih kuat, gue udah bisa nerima kalau ngga apa-apa kalau kadang kita ngga baik-baik aja. Sedih, perih, luka, kecewa adalah hak setiap jiwa. Gue mungkin sedang mengalaminya, ngga tau juga kenapa hahaha

Beruntun hal-hal mengecewakan melanda gue, setidaknya gue ga pernah berpikir buat ngelakuin hal-hal aneh selain pengen liburan ke Toraja, New Zealand, dan Iceland hahaha

Tapi di kesempatan kali ini izinkanlah gue yang lagi krisis ini tetap berterima kasih kepada beberapa orang yang menguatkan gue untuk tetap semangat dalam hidup:

  • Aina. Senyum kamu nak. Ibu selalu lupa krisis kalau lagi main sama si bayi baik sholehah ini.
  • Rifan. Pernah gue bangun di pagi-pagi dan tiba-tiba nangis ga karuan… Rifan menenangkan gue dan bilang semua bakal baik-baik aja. I owe him so many times :”)
  • Ires. Yang setidaknya menampar gue dengan kalimat, “Lo emang sering resah. Pelan aja mut.”
  • Leila dan Pasha. Perbincangan singkat di meja makan setidaknya menyadarkan gue kalau gue ga sendiri, gue pikir gue doang hahaha :”)
  • Mas Gardika Gigih. Jelas sekali gue ga kenal beliau secara personal. Tapi semua lagu di albumnya yang berjudul ‘Nyala’ menemani hari-hari kontemplasi gue, terutama track terakhir. Gue merasa selalu hidup lagi rasanya selesai mendengar album ‘Nyala’.
  • Diego. Yang walaupun dia beda agama sama gue, waktu gue bilang gue lagi krisis dia mengingatkan gue… “Balik dan deketin lagi ke agama ya beb.”
  • Uda A. Fuadi. Yang walaupun gue juga ga kenal secara personal. Tapi satu dialog di buku ‘Anak Rantau’ ciptaannya seperti menggebuk-gebuk gue sekaligus menyembuhkan gue,

“Bagaimana sedih dan merasa terbuang itu melemahkan. Bagaimana terlalu berharap kepada manusia dan makhluk itu mengecewakan. Jadi, kalau merasa ditinggalkan, jangan sedih. Kita akan selalu ditemani dan ditemukan oleh yang lebih penting dari semua ini.

Resapkan ini: kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita.” -Pandeka Luko di buku ‘Anak Rantau’

Sudah… setelah ini gue ga mau muluk-muluk akan lebih optimis atau punya kalimat-kalimat motivasi lainnya di tahun berikutnya. Gue hanya akan banyak mendengarkan, mengamati, dan berkarya lagi. Doa gue juga ga sebanyak dulu, gue hanya ingin gue lebih realistis dan semangat lagi. Semoga kita semua berbahagia dengan hati yang sabar, beryukur, dan ikhlas di hari-hari berikutnya.

Sampai juma di 2018! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *